selatsunda.id — Dunia hiburan kota Balikpapan semakin inovatif. Studio lokal CinePort Balikpapan resmi memperkenalkan proyektor dome 360 derajat, sebuah teknologi baru yang memberikan pengalaman menonton film imersif di ruang setengah kubah.
Peluncuran dilakukan di CinePort Innovation Hall, Minggu (10/11), dihadiri komunitas perfilman, pegiat teknologi visual, serta pelajar sekolah film. Dengan teknologi ini, penonton bisa menikmati film seolah berada di dalam adegan — dikelilingi oleh gambar, suara, dan efek visual yang mengisi seluruh ruang pandang.
“Kami ingin menghadirkan cara baru menonton film. Penonton tidak hanya melihat layar, tetapi masuk ke dunia cerita,” ujar Randy Mahesa, pendiri CinePort Balikpapan.
Baca Juga: “UrbanLink Palu Hadirkan Sistem Pengingat Energi Rumah Cerdas“
🎥 CinePort Balikpapan Rilis Teknologi Dome 360: Sinema di Dimensi Baru
Proyektor ini menggunakan sistem multi-lens projection yang menampilkan gambar ke permukaan kubah berdiameter 12 meter. Gambar disusun otomatis oleh perangkat lunak CineSync 360 agar hasilnya tetap tajam dan selaras di semua sudut.
Selain itu, sistem suara yang digunakan adalah 3D Surround Spatial Audio, yang menciptakan sensasi arah suara nyata — dari atas, bawah, hingga belakang penonton.
“Teknologi dome ini mirip planetarium, tapi dirancang khusus untuk film dan konten kreatif. Jadi tidak hanya edukatif, tapi juga artistik,” jelas Randy.
CinePort bekerja sama dengan perusahaan teknologi visual asal Bandung, VisiDome Tech, untuk mengembangkan perangkat keras dan kalibrasi sistemnya.
🌌 CinePort Balikpapan Dengan Pengalaman Sinema yang Lebih Hidup
Dalam sesi perdananya, CinePort menayangkan film pendek bertajuk “Borneo Sky Voyage”, hasil produksi komunitas film lokal. Film ini membawa penonton menjelajahi langit Kalimantan dengan efek panorama 360 derajat, lengkap dengan suara burung, angin, dan bayangan awan yang terasa nyata.
“Rasanya seperti terbang. Gambar datang dari segala arah, dan kita ikut hanyut dalam cerita,” kata Siti Nurhaliza, pengunjung asal Samarinda yang hadir di acara peluncuran.
CinePort juga memanfaatkan teknologi sensor gerak untuk menciptakan interaksi antara penonton dan adegan. Dalam beberapa film, penonton bisa menggerakkan pandangan kepala untuk fokus pada bagian tertentu dari cerita.
🎬 Kolaborasi dengan Sineas Muda
Salah satu misi utama CinePort adalah membuka ruang bagi sineas muda untuk bereksperimen dengan format film 360 derajat. Untuk itu, mereka mengadakan program pelatihan “360 Film Lab” yang mengajarkan dasar sinematografi dome, teknik editing sferis, dan penggunaan kamera panorama.
Menurut Dewi Rachman, koordinator program, pelatihan ini telah diikuti oleh lebih dari 80 peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.
“Anak muda di sini punya banyak ide visual, tapi jarang punya fasilitas. CinePort ingin jadi tempat belajar sekaligus tempat berkarya,” jelas Dewi.
Beberapa hasil karya peserta 360 Film Lab dijadwalkan tayang di festival film lokal bulan depan, termasuk film bertema lingkungan dan budaya pesisir.
📡 Dukungan dari Pemerintah dan Komunitas
Inovasi CinePort mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Balikpapan, yang melihat potensi besar teknologi ini sebagai daya tarik wisata digital baru.
Menurut Kepala Dinas, Hendra Taufik, teknologi dome bisa menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata daerah.
“Bayangkan wisatawan datang dan menonton film 360 tentang hutan Kalimantan atau laut Balikpapan. Itu promosi visual yang kuat,” ujarnya.
Selain itu, komunitas pelajar dan kampus teknologi di Balikpapan juga antusias untuk berkolaborasi. Mereka tertarik menjadikan dome CinePort sebagai laboratorium penelitian multimedia interaktif.
🪐 Dari Studio ke Destinasi Wisata Edukasi
CinePort merancang area dome tidak hanya untuk film, tetapi juga pertunjukan digital edukatif seperti simulasi luar angkasa, pameran sains, dan konser visual.
Setiap sesi menonton dibatasi maksimal 40 orang agar pengalaman tetap nyaman. Tiket dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp35.000.
“Kami ingin semua kalangan bisa menikmati teknologi ini, bukan hanya pecinta film,” kata Randy.
Dalam waktu dekat, CinePort juga akan meluncurkan CinePort VR Pass, tiket digital yang memungkinkan pengunjung menonton versi 360 dari rumah melalui perangkat virtual reality headset.
🚀 Arah ke Depan: Menyatukan Film, Teknologi, dan Komunitas
CinePort berencana memperluas jaringan dome ke kota lain di Kalimantan dan Sulawesi dalam dua tahun mendatang. Mereka juga membuka peluang kolaborasi dengan sekolah dan universitas untuk mengadakan kegiatan creative learning berbasis film 360 derajat.
“Kami percaya masa depan sinema bukan hanya di layar datar, tapi dalam ruang pengalaman. Dome 360 adalah langkah pertama,” ujar Randy optimis.
Dengan kehadiran CinePort Balikpapan, industri film Indonesia Timur kini memasuki babak baru: sinema imersif yang memadukan seni, teknologi, dan edukasi. Dari sebuah kota pesisir, inovasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas tidak mengenal batas ruang dan layar.
Baca Juga: “Rektor UNEJ dan Bupati Jember Launching Mobil Hemat Energi, Wilabrata DV dan Basundara E-Kart“











